Article

 

 

Manggis, The Queen of Fruit

Buah Manggis, memiliki nama ilmiah Garcinia mangostana. nama lainnya Manggu (Jawa Barat), Manggus (Lampung), Manggusto (Sulawesi Utara), Manggista (Sumatera Barat), Mangosteen (lnggris), Mangostin (Spanyol), Mang khut (Thailand), Mongkhut (Kamboja), Cai mang cut (Vietnam). Manggis merupakan buah asli Asia, Australia dan Afrika. Buah ini banyak tumbuh di daerah tropis seperti Filipna, Myanmar, Malaysia, dan juga di Indonesia.

Pohon manggis bisa mencapai ketinggian 15-20 meter. Buah matang berwarna ungu kehitaman dengan ketebalan cangkang bisa mencapai 1 cm. Bagian daging buah bisa terdiri dari empat sampai delapan juring. Konon, manggis dianggap buah dengan rasa terlezat sehingga mendapat julukan the queen of fruit (ratu buah) karena menjadi buah kesukaan ratu Victoria Inggris.

Buah manggis kaya nutrisi, namun sebetulnya kulit buah manggislah yang digunakan sebagai obat tradi­sional. Sejak dulu kulit manggis sudah digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit terutama di India, Myanmar, Sri Lanka dan Thailand. Bahkan di China telah digunakan dalam pengobatan tradisional kuno yang ter­catat dalam sejarah Dinasti Ming (1268-1644 Masehi).

Beberapa penyakit yang secara tradisional dapat diobati kulit buah manggis antara lain diare, peradangan, alergi makanan, infeksi kulit, cacingan, sariawan, eksim, dan masih banyak lagi. Berbagai penelitian laboratorium yang dilakukan belakangan, membuktikan bahwa apa yang awalnya dianggap berkhasiat secara empiris, ternyata teruji benar. Penelitian secara in vitro di labora­torium menunjukkan bahwa zat yang terkandung dalam kulit buah manggis bisa melawan sel kanker.

Buah manggis kaya akan vitamin C, B1, B2, Kalsium serta zat besi, dan kandungan lain yang bermanfaat untuk tubuh. Kulit buah manggis mengandung beberapa zat aktif diantaranya xanton, flavonoid, tanin, vitamin B1, vitamin B2 dan vitamin C.

Zat yang dipercaya paling berkhasiat adalah xanton. Xanton adalah getah berwarna kuning yang terdapat pada kulit manggis. Senyawa organik ini bersifat antioksidan, antibakteri, antitumor, antialergi, anti radang, antiviral, antifungal, antimalaria, antiHIV, hingga antiobesitas.

Zat berkhasiat pada tanaman manggis sebetulnya tersebar di seluruh bagian tanaman. Namun kandungan xan­ton tertinggi ada pada kulit buahnya. Terdapat kurang lebih 200 jenis senyawa xanton alami yang sudah diketahui dari berbagai tana­man. Pada manggis ditemukan 40 jenis senyawa xanton.

Xanton berfungsi sebagai antioksidan kuat yang bisa melawan efek buruk dari radikal bebas. Xanton juga dilaporkan memiliki aktivitas farmakologis sebagai antibakteri, anti retroviral, antijamur, antiinflamasi, dan anti leukemia. Demikian dijelaskan Dr. Berna Elya, Apt. M.Si, dari Uni­versitas Indonesia, dalam wawancaranya dengan Herbalplus (2013).

Penelitian-penelitian efek antikanker xanton di Indone­sia, masih terbatas secara in vitro. Artinya, penelitian dilakukan kepada sel-sel kanker di dalam tabung di labo­ratorium dan belum diujikan kepada hewan percobaan atau uji pra klinik kepada manusia.

Efek Antikanker, Efek antikanker xanton dari kulit buah manggis secara in vivo telah dilakukan oleh peneliti Jepang, Yuki­hiro Akao dkk (2008). Penelitian terhadap tikus perco­baan menunjukkan bahwa senyawa xanton terutama alfa-mangostin terbukti menghambat pertumbuhan sel-sel kanker usus. Penelitian Berna Elya dari Universitas Indo­nesia terhadap xanton menunjukkan bahwa xanton juga aktif terha­dap sel-sel tumor dan kanker payudara. Penelitian xanton juga dilakukan sel-sel kanker leukimia secara in vitro. Hasilnya, xanton sangat aktif terhadap Cell Line L2120 yang menyebabkan leukimia.

Mengatasi Tuberculosis (TBC), Salah satu kemampuan penting dari xanton adalah mematikan bakteri. Xanton berkhasiat mengatasi kelebihan bakteri dan menyeimbangkan kembali sistem kerja pencernaan. Bakteri yang pertumbuhannya bisa dihambat oleh xanton ternyata cukup banyak, beberapa diantaranya adalah Mycobarterium tuberculosis penyebab TBC, Salmonella, dan banyak bakteri berbahaya lainnya. Tahun 2001, sekelompok peneliti manggis dari Asia Teng­gara menemukan bahwa senyawa xanton dari kulit mang­gis memiliki efek antibakteri penyebab tuberculosis (TBC). Demikian penjelasan Prof. Dr. Atiek Soemiati, M.S., Apt., yang dimuat Herbalplus (2013).

Selain bersifat antimikroba, hasil penelitian membuktikan bahwa xanton dapat membunuh bakteri yang sudah resisten atau tidak mempan dengan antibiotik. Sebagai antibiotik alami, khasiat xanton terbukti melampaui antibiotik buatan, seperti penisilin, floksasin, oksasilin, dan vankomisin. Ada penelitian terhadap aktivitas xanton dari kulit buah manggis terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus yang resisten terhadap antibiotika Metisilin. Hasilnya menunjukkan bahwa xanton bersifat aktif menghambat pertumbuhan bakteri tersebut.